Dampak Inflasi Karena Burden Sharing

Menyusul pandemi yang tidak segera surut, kondisi ekonomi negara-negara penderita gelombang kedua Covid 19 ini juga makin memburuk. Hal ini menjadi salah satu penyebab bantuan negara tidak didapatkan oleh masyarakat seperti umumnya. Kondisi ini memaksa negara untuk melakukan burden sharing.

Burden sharing sendiri mendatangkan banyak pertanyaan. Salah satunya adalah inflasi karena burden sharing. Untuk tahu lebih lanjut mengenai inflasi yang disebabkan karena burden sharing ini berikut ini adalah beberapa informasi mengenai inflasi dan burden sharing. Hal ini juga sudah diprediksi oleh ekonom bank mandiri.

Informasi penting mengenai inflasi karena burden sharing

Sebelum bicara lebih lanjut mengenai inflasi yang disebabkan karena burden sharing, kita kenali dahulu apa yang disebut dengan burden sharing. Burden sharing merupakan sebuah upaya pemerintah dalam melakukan kerja sama mengatasi masalah ekonomi. Kerja sama ini dilakukan oleh kementerian keuangan dan juga oleh Bank Indonesia.

Kerja sama pembagian beban ini dikhawatirkan menyebabkan inflasi seperti yang pernah terjadi dari era reformasi yaitu di tahun 1998. Lalu apakah kondisi ini akan benar-benar menyebabkan inflasi? Ini dia ulasannya.

·         Inflasi karena burden sharing

Pada dasarnya negara paham bahwa inflasi bisa menjadi salah satu efek penyerta pada burden sharing. Banyak orang yang takut bahwa kondisi ekonomi akan tumbang sering dengan adanya burden sharing ini.

Ekonom juga menyatakan bahwa inflasi sangat mungkin muncul akibat skema pembagian beban ini. Akan tetapi jumlah inflasi masih ada dalam kondisi normal. Jumlah inflasi ini diperkirakan akan berkisar antar 2% hingga 4%.

Pihaknya juga menyatakan bahwa inflasi tahun ini akan lebih besar dari tahun ini. Diperkirakan inflasi di tahun 2022 akan mencapai 3.1% yang mana https://slotjokerliga365.com masih dalam kondisi yang aman. Akan tetapi inflasi ini sudah diprediksi dan bertujuan untuk pemulihan ekonomi.

·         Jaminan inflasi masih terkendali

Meski akan menyebabkan penambahan inflasi, akan tetapi jumlah inflasi ini masih akan terkendali. Hal ini disebabkan karena kondisi Covid 19 di perkirakan akan segera membaik. Ekonom dari mandiri ini sudah memperkirakan bahwa angka Covid 19 tiap harinya bisa di tekan dengan adanya PPKM dan juga adanya vaksinasi yang makin gencar membuat masalah ini diharapkan akan makin menurun.

Dengan penurunan jumlah kasus ini, PPKM mungkin akan segera dilonggarkan. Dengan adanya pelonggaran ini, kegiatan ekonomi bisa dilanjutkan dan roda ekonomi akan segera berputar. Hal inilah yang membuat pemerintah yakin bahwa kondisi pandemi maupun inflasi akan berhasil dikendalikan di masa depan.

Selain karena pelonggaran PPKM, hal lain yang disebut dapat membantu segera memperbaiki kondisi ekonomi ini adalah adanya insentif pajak konsumen yang akan selesai di tahun depan. Hal ini dapat menjadi salah satu aspek penting dalam normalisasi harga di tahun depan.

·         Kemungkinan inflasi memburuk

Meski kondisi inflasi ini sudah dipersiapkan dan diprediksi dengan banyak aspek. Akan tetapi tetap ada faktor ancaman lain. Salah satu faktor ancaman lain inflasi dalam hal ini adalah tindakan dari Amerika Serikat yang mengeluarkan kebijakan moneter yaitu dengan menurunkan harga komoditas. Hal inilah yang memungkinkan kondisi ekonomi Indonesia akan terancam.

Meski begitu, pemerintah akan tetap yakin bahwa kondisi ekonomi akan terus membaik terutama adanya prediksi bahwa harga emas yang merupakan penyumbang terbesar inflasi akan turun. Hal inilah yang membuat inflasi karena burden sharing diprediksi tetap bisa dikendalikan.