Kinerja Perbankan Tetap Bersinar Berkat Banjir Stimulus

Kinerja Daya Tahan Industri Perbankan masi tetap bersinar dan cemerlang di masa pandemi Covid-19. Namun aset perbankan melaju dengan pesat karena dibantu oleh program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan beragam peraturan yang disahkan oleh Kemenkeu, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Tenaga Pakar Menteri Keuangan bidang Jasa Keuangan, Mirza Adityaswara membicarakan pada awal waktu pandemic Covid-19, pemerintah berkata merasa resah akan industry perkembangan perbankan akan terhambat karena dampak pandemic Covid-19. Hal ini sudah biasa karena meninjau kembali karena perbankan memiliki efek besar dalam perekonomian nasional.

Menurut beliau, untuk persiapan terlebih dahulu kepada dampak kemungkinan terburuk, sebagai tanggapan awal pada Maret 2020 pemerintah mengesahkan PP Nomor 1 tahun 2020 yang telah dipastikan menjadi UU Nomor 2 tahun 2020.

“Lewat Badan UU tersebut, Kemenkeu mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia ( BI ) dan Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) dan Lembaga Penjamin Simpanan untuk bersiaga menghadapi kemungkinan kerusakan sector riil yang berakibat  meluas ke sektor keuangan. Melewati instrumen fiscal, Kemenkeu menetapkan langkah-langkah darurat dalam bentuk prosedur coutercylical untuk menangani dampak pandemi Covid-19” ungkap Mirza di Jakarta, Senin ( 30/8 ).

Buat mendukung dunia usaha, terus Mirza, Kemenkeu bekerja sama dengan OJK, BI dan LPS sudah berkordinasi dan bersatu https://slotjokerliga365.com untuk mendukung akselerasi PEN terutama dari segi dukungan penanggungan dan penguatan likuiditas jalur usaha.

Beliau menuturkan, Kemenkeu lewat instrument APBN telah menghadirkan prosedur resiko berbagi pinjaman kredit, pengalokasian dana di perbankan, dan tanggungan bunga UMKM. Sedangkan BI menganjlokan suku bunga pedoman BI 7-Day Reverse Repo Rate hingga 125 bps, menganjlokan Giro Makroprudensial ( PLM ) serta perenggangan Loan to Value ( LTV ).

OJK sendiri menyalurkan relaksasi restrukturisasi kredit, penjumlahan aset tertimbang menurut dampak dan menekan suku bunga terendah. Sedangkan LPS menerapkan relaksasi pelunasan denda keterlambatan dari premi penjaminan.

“Beragam prosedur tersebut dipastikan sangat efektif melindungi resilience perbankan kita dalam menangani tekanan. Likuiditas Perbankan yang pada mulanya dicemaskan mengalami kendala dan flight to quality antar bank , hingga sekarang masih dapat dikontrol dengan baik bahkan  likuiditas perbankan kita sungguh ample, sangat membukit dan sangat cukup” ungkap Mirza.

Soal ini, terus dia, terpandang dari rasio Alat Likuid terhadap Non Core Deposit ( AL / NCD ) pada penghujung bulan Juni 2021 menjangkau 151,2 % dan perbandingan pinjaman untuk simpanan atau Loan to Deposit Ratio ( LDR ) yang menjangkau hingga 80,1 %.

Dari segi profitabilitas, keuntungan bersih per Juni 2021 masih berkembang naik 7,9% dengan Net Interest Margain ( NIM ) 4,56 %. Kemudian dari segi permodalan, Capital Adequacy Ratio ( CAR ) usaha perbankan pada Juni 2021 menjangkau 24,3 % jauh melambung dari posisi Maret 2020 yang hanya 21,6 persen.

Cara kerja ini juga tidak terlepas  dari perbandingan kredit berkendala atau Non Performing Loan ( NPL ) yang umumnya cenderung rendah walaupun mengalami kemajuan, di tengah pandemic Covid-19. Terdata NPL gross Juni 2021 sebesar 3,24%, sedangkan pada Maret 2020 sebesar 2,77 %.

Kami dari jalur pemerintah pantas bersyukur dengan situasi perbankan yang tergantung resilience menghadapai pandemi Covid-19 masi memiliki level ketidakpastian  yang tinggi dan belum dapat diprediksikan kapan akan selesai walaupun program vaksinasi tetap berjalan.

“Beragam kemungkinan dampak sekecil apapun lalu kami identifikasi dan monitor sehingga dapat segera disiagakan dan mitigasi berakibat jika resiko itu benar terjadi,” pungkasnya.